Tab

Selasa, 20 Juli 2010

Diriku berada dalam tenda oranye yang  berdiri tegak semalam lalu. tanganku tak hentinya menggenggam kepala dengan erat, pikiranku berada tidak tepat pada jalurnya bergemetar, bisa ku pastikan suhu kaki gunung ini tidak lebih dari 15 derajat.


Aku berlari mengikuti arah cahaya yang kian menjauh. kilauan mentari mulai tenggelam tinggalkan langit. angin bertiup teramat sangat kencang meniup rambutku hingga menutup kedua mataku, aku terperanjat dan tepat sebuah bongkahan batu pualam hendak  menusuk mataku! 


Ingatanku mulai memutar potongan sisi lain yang kulihat malam tadi, aku melintasi dataran hitam pekat dengan garis putih menuju ke tempat dimana aku duduk, mendengarkan, dan mulai berpikir apa yang mereka bicarakan. ada saja yang tidak ku mengerti dari percakapan yang mereka sampaikan. tempat dimana aku mencoba memperjuangkan apa itu yang sering  disebut sebut sebagai nilai Index Prestasi. jiwa dan nurani ku mencoba menolak saat aku mulai tanamkan hidup ini tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain duduk, mendengarkan, dan mencoba mengerti apa yang mereka bicarakan, mengulang kambali dari apa yang mereka bicarakan demi sebuah angka. Ribuan pertanyaan yang seharusnya terjawab saat itu pula, dari waktu ke waktu mulai ku susun dan ingin ku temukan apa yang seharusnya orang-orang  yang baru saja melepas warna putih abu abu lakukan di tempat yang kebanyakan orang menyebutnya dengan sebutan "kampus"

Areal besar nan rindang dimana aku biasa menempatkan kendaraan bermotor ku hari ini  tak seperti biasa, amat sangat lengang, dengan  jumlah yang bisa terhitung  lantas ter-gambar suasana gedung biru kuning ini, Tak bernyawa. ku lewati beberapa anak tangga hingga aku sampai pada sebuah ruang 3 x 5 meter persegi membuat lengan ku mulai mengembun membentuk butiran kecil. segelintir orang terlihat cakap dan memainkan kata-kata  tersirat bergambar politikus  handal. ku belok kan langkah kakiku hingga arah ku berlawanan. Selalu ada saja yang dapat dipermasalahkan di negeri ribuan pulau ini. mentereng rasanya bila beradu kata dengan sesama, Bertameng warna warni estafet kehidupan. Tak elaknya pasukan bertameng itu melepaskan genggaman atas apa yang seharusnya mereka genggam. kursi kursi yang menjadi incaran pasukan pun hendak bercakap bila memang dapat mengeluarkan ultarsonic dari unsurnya. "Hancurlah atas apa yang pasukan itu lakukan" fenomenal memang apa yang mulut mereka perbincangkan, jari jemarinya seakan terus mengetuk sisi lain kebenar-salahan kehidupan.

"Kata tak akan pernah habis meski hitamnya tinta telah memudar, sayapku tak akan berhenti terkepak meski penuh balutan luka"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar